http://politik.vivanews.com/news/read/258618–ini-permainan-politik-
http://politik.vivanews.com/news/read/258618–ini-permainan-politik-
Semangat perjuangan mahasiswa Indonesia kian menunjukkan indikasi-indikasi mati suri. Semakin jauh dari cita-cita reformasi yang dulu digelorakan oleh para pendahulunya. Bukan lagi pada ideologi nasionalis, sosialis, maupun agamis, tapi hedonis.
Setidaknya ada visis yang diusung mahasiswa pada demonstrasi besar-besaran tahun 98 yaitu 1) Cabut dwifungsi ABRI, 2) Adili Soeharto, 3) Perangi KKN, 4) Tegakkan supremasi hukum dan HAM, 5) Singkirkan sisa-sisa ORBA, dan 6) Selesaikan semua kasus HAM. Sejarah mencatat bahwa perlawanan mahasiswa di era-98 tersebut merupakan salah satu tonggak sejarah bangsa Indonesia yang kemudian menghantarkan bangsa ini ke gerbang reformasi, lepas dari cengkraman rezim 32 tahun Soeharto.
Disaat yang sama, para mahasiswa bersatu padu menentang kesewenang-wenanganan yang terjadi. Mereka mampu tampil sebagai sekelompok kaum intelektual yang mempunyai semangat revolusioner. Klimaksnya, Soeharto lengser.
Sebuah harapan akan masa depan dan kehidupan yang ebih baik bagi bangsa Indonesia terus dinanti-nanti oleh masyarakat. Namun 13 tahun reformasi bergulir, para mahasiswa yang dahulunya tampil menuntut reformasi menghilang entah kemana. Para mahasiswa yang dahulu berada di garda terdepan aksi perlawanan 98 kian tak terdengar kabarnya. Apakah mahasiswa yang dulu tampil amat revolusionis sekarang telah kehilangan semangat juang dan kepeduliannya pada bangsa ini ?
Semakin amat disayangkan perjaungan mahasiswa saat ini seperti bopeng sebelah. Jikalau masih ada yang meneriakkan semangat perubahan, semua bisa dihitung jari. Terkonsentrasi pada mereka yang bermukim di kota besar dan itupun sebagian. Sementara mahasiswa daerah kian masig dan bahkan apatis.
Mahasiswa sepertinya tidak tertarik lagi berpeluh-peluh dan bersusah-susah menjadi penyambung lidah rakyat, barangkali sudah bosan. Diskusi-diskusi ilmiah tentang kondisi bangsa terkini beralih menjadi obrolan-obrolan ceria di kafe-kafe mewah di luar bahkan yang sudah berdiri megah di dalam kampus sendiri. Dandanan dan performance mereka seakaan tak mau kalah dengan dandanannya pejabat-pejabat tinggi. Dan sadar atau tidak mahasiswa telah menjadi pejuang-pejuang hedonisme di kampusnya masing-masing.
Disaat para pejabatnya sudah korup dan doyan menghabisi uang rakyat, sampai siswa-siswa SD mencontek massal ketika ulangan, hingga mahasiswa pun yang sibuk memperbaiki penampilan dan menghabiskan waktu luang di kafe-kafe. Maka siapa lagi akan memikirkan masa depan yang lebih baik bagi banga ini ? Ataukah kita biarkan seja kerbau-kerbau di sawah yang tak pandai berdandan bahkan korupsi untuk mengurusi bangsa ini ?
Udin kecil masih terus bertanya. Hatinya berontak dengan segala rutinitas yang setiap hari di jalaninya. Dan satu hal yang masih ia yakini sampai saat ini. “Dengan semua sistem, model, ataupun bentuk ini aku tak akan berkembang kecuali hanya akan menjadi hewan ternak di masa depan nanti. Menjadi ternak ? lebih baik aku bertani di kampungku daripada harus disini hanya untuk sekedar menjadi lulusan atau sarjana kerbau” pikirnya.
Sekolah yang ia tempati memang tersohor ke seluruh pelosok daerahnya. Akan tetapi udin kecil masih menyimpan rasa tidak puas pada Ibu Irene, guru ilmu alamnya. Hingga saat ini ia hanya merasakan bahwa selama ini Ibu Irene hanya mampu menumpahkan air baskomnya kepada kedua lubang telinganya. Mungkin bukan hanya dia tapi juga pada yang lain. Ibu Irene bagiku hanya mementingkan ia menuntaskan semua kurikulum yang ada, semua SKL tersampaikan tuntas, tanpa peduli apakah kelasnya akan di dominasi oleh beberapa orang saja, sementara yang lain ? ya, semakin terkucilkan di sudut-sudut dinding kelas dengan semua ketakutan mereka, ketakutan bukan pada teman yang lain atau gurunya, tapi ketakutan akan dominasi dari teman yang lainnya yang amat menajajah alam kebebasan mereka di KELAS MEREKA SENDIRI.. Mereka bukan tidak mampu, mereka bukan tidak ingin. tapi kelasnya Ibu Irene sudah terlanjur di dominasi oleh beberapa orang-orang pandai di kelasnya. Alhasil, hukum rimba pun seakan berlaku. Yang mengerti semakin mendominasi, semakin lebar bibirnya ke kiri dan ke kanan melihat Sang Guru menampakkan wajah puas pada dirinya, semua mereka lahap tanpa ampun karena mungkin ketika itu mereka hanya berfikir, bisa menuntaskannya dan setidaknya Sang Guru akan bangga padanya. Materi dijelaskan, ditanya apakah sudah mengerti atau belum, di beri contoh-contoh soal yang mungkin akan keluar ketika ujian, dan ketika ditanya “Buk, ketentuan ini datangnya darimana ?”, Terkejut Udin ketika Sang Guru menjawab “Ah, terlalu panjang untuk di jelaskan, yang jelas ananda bisa paham konsepnya, bisa mengerjakan soal-soal yang mungkin akan keluar ketika ujian nanti, itu yang terpenting. Pokoknya itu formulanya dan nanti tinggal masuk-masukkan saja !” Jawab Sang Guru dengan senyum penuh bangga seakan ia telah mampu membuat si Udin kecil terpesona. Tapi tidak bagi Si Udin. “Emang ibuk pikir kerbau yang hanya disuruh melakukan apa perintah dari pemiliknya ?” Gumam Udin berontak.
Sementara apa yang terjadi pada mereka yang lain. Mereka gamang. Kalau dahulunya salah dalam menjawab atau keliru dalam menjawab pertanyaan yang dilemparkan guru adalah hal yang wajar, tapi kini terbalik. Biarlah diam daripada menjawab salah, takut akan semakin di pandang remeh oleh yang lain. Ya, lebih baik diam. setidaknya itu yang sebagian mereka pikirkan. Terkadang Si Udin sendiri iba dan kasihan melihat teman-temannya itu walau sebenarnya ia lebih kasihan pada dirinya karena di posisi yang sama. Akantetapi setidaknya ia mampu berfikir relevan pada kondisi yang ia dan teman-temannya, “kaum terkucilkan di sudut kelas”, “Kenapa kelasku seperti ini ?”. Yang bisa semakin bisa, dan yang tidak mengerti semakin takut untuk bertanya agar mengerti. “Buk Irene, tidakkah engkau memperhatikan kami layaknya mereka yang mendominasi kelas dengan kemampuannya yang lebih, kalau tidak salah aku pun pernah membaca buk, kalau tugas seorang guru tidak hanya untuk menuntaskan semua SKL yang ada, tapi juga untuk majga kondisi kelas agar tidak didominasi oleh sebagian murid. Jadi apakah beda kami dengan mereka buk ? Oh mereka lebih hebat, mereka lebih cepat mengerti, mereka lebih tanggap, tapi apa ibuk pun pernah ingin agar semuanya bisa begitu dan tidak pada mereka-mereka saja buk ? Jadi apakah beda kami dengan mereka buk ?. Namun percuma, Udin kecil hanya mampu berteriak-teriak muak dalam hatinya tanpa satu orang yang tahu.
Hingga saat kelas itu berakhir, dilihatnya buku latihan tanpa sampul yang terbuka di atas mejanya. Masih kosong, ia baru sadar ia baru mengerjakan 2 buah soal, itupun soal mudah. Ibuk irene pun berlalu, dilihatnya dengan senyum sumringah meninggalkan kelas.”Terimakasih buk, kelihatannya air di baskom ibuk telah habis tapi aku tidak mengerti kenapa aku tak pernah tau kalau itu ternyata benar-benar air tapi aku juga tidak paham buk untuk apa air ini bagiku ? sekedar untuk berwhudu’ sajakah buk ?” Gumam Udin kecil.
Dan apakah kamu pernah melihat orang2 yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan mereka. Allah menutup atas mereka penglihatan dan pendengaran mereka … (Q.S. Al-Jatsiyah)
Semua pertikaian ini, semua konflik ini bahkan kita semua tidak mengerti kenapa. Sekali lagi, kta takut kalau terjadi Clash. Kita semua takut kalau opini dan pandangan negatif tanpa didasari pemikiran yang kuat atau pendapat asal-asalan menanggapi permasalahan yang terjadi akan tersebar begitu cepat ke semua orang. Kita semua takut membayangkan hal apa yang akan terjadi. Ketika kita tak lagi bisa menentukan kemana kita harus berpijak, kemana kita harus berpihak. Tapi satu hal yang pasti kita semua berharap, kita tak seraya menutup mata akan hal ini.
Kita khawatir ketika semua akan bertindak sendiri-sendiri, asal-asalan, dan bukan tak mungkin anarki. Semua mesti kita antisipasi bersama karena jelas, ini kepentingan kita semua.
Dan, hanya pada kebenaranlah kita bsa selalu berpijak, aku pun menyadari. memegah teguh prinsip-prinsip ini dengan resiko diasingkan, adalah hal yang teramat sulit. walau suatu saat ketika kita semua tak lagi punya pilihan, kita harus melakukan hal itu.
Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan
MY NEW SPIRIT
Ada yang hilang dari asrama ini. Aku amat menyadari dan merasakan hal itu. Semakin berkurang rasa kekeluargaan yang dulu amat terasa begitu hangat. Semakin hilang perasaan untuk berlama-lama di asrama ketika pulang masal, dan lain-lain hal. Teringat akan masa-masa awal di asrama ketika semua terasa begitu indah dan nyaman, orang-orang yang amat asyik dan orang-orang hebat yang amat aku kagumi, mulai dari semangat belajarnya, semangat kekeluargaannya, dan semangat keislamannya. begitu terasa kuat. Seiring berjalan waktu, aku semakin ingin bertanya-tanya, apakah kita telah kehilangan sesuatu kawan ? Kemana semangat yang selalu membuat aku ingin berlama-lama disini ?
1,5 Tahun lebih kita telah menghabiskan masa-masa kita di asrama. Wajar rasanya jika kita mulai bertanya, karya terbesar apa yang telah kita berikan untuk asrama ini ? pengabdian apa yang telah kita buat untuk generasi ini ? dan … sudah cukup matangkah kita untuk menjadi ‘produk’ yang siap bersaing di ‘pasaran globalisasi’ di luar sana ?
1.5 Tahun bukan waktu yang singkat. singkat kata, setengah masa hidup kita di asrama telah kita lalui. tinggal 1,5 Tahun kurang lagi kita akan menghadapi kehidupan luar yang amat buas dan kita akan kehilangan orang-orang yang selalu setia mengingatkan kita akan kebaikan. Pertanyaannya, apakah kita akan menjadi seorang yang akan berpengaruh diluar sana nantinya atau hanya akan menjadi manusia yang semakin terseret oleh arus kebobrokan dunia saat ini ? Pilihan di tangan kita.
Teringat kembali akan kata2 yang pernah dilontarkan pembina asrama kepada kami, “Asrama ini adalah rahim yang akan melahirkan orang-orang yang akan memberikan warna baru di masyarakat nantinya, kita adalah orang-orang yang akan mengubah jalannya peradaban ini”. Aku amat suka dengan kata2 penuh semangat itu. Kata2 revolusioner kupikir. Jangan sampai kawan kita hanya menjadikan asrama ini sebagai tempat menghabiskan waktu 3 tahun kita di SMA begitu saja. Singkatnya, jangan kita hanya menjadikan asrama ini sebagai tempat tidur semata, JANGAN.
Banyak hal berubah dari asrama ini, walau mungkin juga aku keliru dengan pernyataan ini karena aku pun amat sedikit mengetahui, SEBENARNYA BAGAIMANAKAH BENTUK IDEAL DARI ASRAMA INI ? meskipun begitu aku amat yakin, kita telah kehilangan banyak hal yang selama ini dielu-elukan oleh orang-orang di luar sana tentang kita. Kenapa ? Caci mencaci, ejekan penuh nada kepongahan begitu ramah terdengar di telinga, seakan kebenaran itu hanya terletak di otak masing2 orang di asrama ini. Seolah-olah yang menjadi benar adalah apa yang ideal menurut pribadi mereka. Hhh, bohong.
Tak ada lagi kebenaran kolektif, tak ada lagi kejujuran dalam melakukan setiap kebaikan, semua merasa benar sendiri, semua berkata seolah-olah mereka adalah orang-orang yang paling tau itu kebenaran, dan semua menjadi amat palsu ketika mereka mendustai hati nurani mereka sendiri. Yang paling aku sesali bukan pada mereka yang bicara lantang tanpa dasar pemikiran yang kuat, tapi pada mereka yang tak ubahnya seperti ilalang kering, kemana angin kesanalah mereka. tak banyak yang ingin menentang kelaziman bersama walau mereka tau itu benar karena khawatir akan satu konsekuensi; Diasingkan.
Hari ini aku amat lelah, begitu banyak yang mesti di selesaikan segera. Tapi alhamdulillah, perlahan tapi pasti semua bisa ku lalui. 2 minggu yang amat menguras tenaga, emosi dan pikiran.
Pagelaran seni tahun 2012 ini selesai sudah, Alhamdulillah semua bisa berjalan sesuai konsepsi awal meski ngeret di hari terakhir. Aku amat bersyukur dan terima kasih untuk semua kerja keras panitia tentunya. Meski di satu sisi, jujur aku amat bersedih melihat adik-adikku x.a yang tahun ini tak bisa dapat posisi pada cabang randai. Tapi tetap bangga dengan mereka berkat usaha dan kerja keras mereka.
Pagelaran seni 2012 usai sudah, semua cerita, emosi, sakit hati mesti di tutup rapat karena masih ada hal besar yang menanti kita teman, BATIK BIRRU. Bukan pekerjaan yang mudah, tapi tidak begitu sulit jika kita memang satu tujuan dan satu semangat untuk mempersiapkannya. Kita bisa ! Insya Allah.
Entah apa yang terjadi, tapi kini asrama menjadi begitu tidak nyaman. Telinga-telinga ini semakin jarang menangkap cerita-cerita hebat dari orang-orang sebelumnya yang pernah hidup disini, semakin jarang telinga ini mendengarkan kata-kata pujian, penyemangat dan sebagainya. Yang ada hanyalah kata umpatan, sumpah serapah, dan kata-kata ketidakpuasan yang diungkapakan. Konflik vertikal antara beberapa penghuninya dengan pembina semakin kuat, bayangkan. Tak ada lagi sapa menyapa diantara mereka, tak ada lagi sesuatu yang dinamakan kedamaian antara mereka ataupun sekedar i’tikad perdamaian. Semua ini tidak hanya berdiam pada beberapa penghuni, saat ini penghuni lain ikut-ikutan terlibat konflik cik kuciang ini. Entah sekedar ikut-ikutan ataupun jujur, emang tidak puas. Aku hanya cemas, akan terjadi Clash, opini buruk dan citra kurang enak akan tersebar cepat ke seluruh asrama bahkan sekolah hingga keluarga, semua akan punya opini masing-masing yang saling menjatuhkan, semua bergerak sendiri, kalau sudah begitu MASIHKAH ASRAMA INI LAYAK SEBAGAI TEMPAT PEMBENTUKAN IDENTITAS WARGANYA ? MASIHKAN ASRAMA INI LAYAK MENJADI TEMPAT BELAJAR YANG KONDUSIF ? jawabannya ia, bagi mereka yang tutup telinga akan permasalahan ini.
Masih terbayang akan suasana-suasana indah di awal aku hidup di asrama ini, tak terbayangkan memang. Aku tak ragu menyebut ini Paradise of School kala itu. Kupikir inilah tempat yang paling damai, saat aku hidup di antara orang-orang jujur, penuh tenggang rasa dan orang-orang dengan keistiqomahan dalam ibadah yang luar biasa. Tapi tidak saat ini, ingin kubenamkan baretku dalam-dalam, MALU AKU JADI SISWA SMANSA kata Taufik Ismail
Bagiku sendiri, aku tak ingin larut terbawa opini siapapun atau janji-janji siapapun. Bagiku tak ada yang paling benar, kebenaran cuma ada dilangit yang diturunkan ke hati nurani. Entah itu mereka dengan prinsip bersatu kita teguh, bercerai kita runtuhnya atau Pembina dengan LSM nya. Terserahlah, kebenaran cuma ada dilangit dan dunia adalah palsu.